Minggu, 22 Januari 2012

Senyuman Bismillah


Bacaan yang sangat dianjurkannya bagi Masyarakat Muslim adalah bacaan bismillah. Keistimewaan bismillah sangat lah luas. Ia bisa jadi yang menunjukkan sifat Allah yang paling menonjol diantara julukan Allah lainnya. Suatu ketika Ustadz kami pernah bertanya kenapa harus “bismillah al-rahman al-rahim” yang biasa diartikan dengan: “dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” bukan “Bismillahi As-syadidul iiqaab” dengan menyebut nama Allah yang sangat keras siksaannya.
Bismillah sebagai pembuka segala sesuatu yang baik diawali dengan sifat kasih sayangnya Allah, sebagaimana kita dalam perjuampaan dengan siapapun harus memancarkan wajah kasih sayang yang dilantunkan dalam senyuman. Tidak mungkinkan kita membukakan pintu untuk tamu kita, dan mempersilahkannya untuk duduk dengan bahasa: “Su…Arep opo kowe rene” pasti dengan tersenyum dan mempersilahkan “monggo-monggo pinarak, wah-wah kedatengan tamu Agung niki…” Sehingga Nabi sendiri pernah bilang:

تَبَسُّمُكَ فِيْ وَجْهِ أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu kepada saudaramu itu shadaqah”
Bismillah ditaruh di muka setiap surat dalam al-Qur’an kecuali Surat At-Taubah itu mengajarkan kepada kita semua agar bismillah yang disebut sehari-hari juga di taruh di muka kita. Wajah kita bisakah memancarkan kasih sayang yang tak mengenal batas. Bisakah kita mengasihi tetangga kita yang Kristen, Yahudi, atau bahkan mereka yang atheis. Maksudnya kasih sayang itu tidak memandang batas institusi agama. Allah menyayangi setiap makhluknya, dan mereka semua dikasihi dengan adil. Dalam salah satu Hadis Qudsi Allah menyebut bahwa semua makhluk ciptaannya adalah keluarga besarnya.
Kalau ada seorang pelacur yang gara-gara memberikan kasih sayangnya dengan secawuk air yang diambil dengan sepatunya kepada anjing yang kehausan, kemudian ia mendapatkan rahmat Allah yang menjadikannya dilebur dosa-dosanya, kemudian di tempatkan di sorga. Maka itu cerita tauladan, bahwa seekor anjingpun (yang katanya najis mugholadzoh) saja mendapatkan hak yang sama untuk dicintai dan disayangi. Dan kasih sayang yang tulus pelacur itu kepada makhluk di bumi mendatangkan kasih sayang dan rahmat dari Allah Swt. Lha…apalagi mencintai manusia yang berakal dan sempurna-sempurnanya ciptaan. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang dikutip di dalam Jamiushoghir

اِرْحَمْ مَنْ فِيْ الْأَرْضِ يَرْحَمْكَ مَنْ فِيْ السَمَاءِ

“Kasih sayangilah penduduk di bumi, maka kamu akan dikasihi penduduk dilangit”
Di dalam hadis tersebut menunjukkan keluasan kasih sayang terhadap siapa dan apapun yang ada di bumi. Tidak ada batas yang menentukan kita hanya mencintai yang kelihatannya baik saja, tetapi semua makhluk yang dinyatakan sebagai penduduk bumi patut kita cintai, cuman kita merasa bahwa diri ini terbatas, maka pelayanan dan kasih sayang kita juga terbatas.
Mengapa semua makhluk Allah patut dicintai, karena mereka semua dicipta ke dunia bertugas saling melengkapi dan saling menolong sesama makhluk. Manusia tidak bisa hidup tanpa suplay oksigen yang di reproduksi oleh tumbuh-tumbuhan; tanpa air yang dijernihkan dan disimpan oleh tanah. Maka manusia sudah sepatutnya mencintai tanah, air, oksigen, hewan, tumbuh-tumbuhan, dll. Juga berkat kasih sayang Allah lah semua makhluk dicipta. Maka tiada satupun yang tercipta di bumi dan di langit ini dengan sia-sia.
“Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.
Ada cerita dari Negeri Firaun yang menceritakan. Disana hidup seorang sufi yang terkenal. Kebanyakan orang menyebutnya dengan Dzunun Al-Mishri. Pada musim liburan sekolah, Dzunun dengan murid-muridnya berlayar di lautan lepas. Mereka ingin bertamasya sekaligus bertafakur. Masih dalam perjalanan di tengah laut, Mereka melihat ada kapal yang akan merapat ke kapalnya, dan terus merapat. Dzunun dan murid-muridnya mengamati penumpang kapal yang tiba-tiba mendekat itu. Setelah mengamati, para santri langsung bisa ambil kesimpulan bahwa mereka adalah bajak laut yang akan berbuat jahat.
Kemudian ada salah seorang murid yang meminta kepada Dzunun. “Wahai guru. Sebagaimana Allah telah mengabulkan doa-doa mu, maka doakan lah mereka agar segera ditimpa kecelakaan, dan kapal mereka ditenggelamkan.” Mendengar permintaan beberapa muridnya itu Dzunun hanya tenang dan mengamati beberapa bajak laut yang semakin dekat nempel di Kapal para siswa. Para bajak laut tertawa sumringah, karena mangsanya sudah diujung mata.
Sambil menengadahkan tangan ke langit, Dzunun mulai berdoa, dan dia berucap: “Ya Allah sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan mereka di dunia, maka bahagiakanlah pula mereka di akherat nanti.”
Murid-murid mengamininya dengan wajah penasaran mendengar doa tersebut. Selang beberapa menit, suara tawa para rompak itu terdengar berubah menjadi tangis masal diantara mereka. Rupanya mereka terharu mendengar doa Dzunun. Mereka semua bersujud menangis, dan meminta kepada Kiai Dzunun untuk menerangkan jalan menuju tobat. Mereka semua akhir urung untuk merampok dan diberikan hidayah oleh Allah SWT melalu sang Sufi Dzunun.
Kita mungkin juga masih ingat kepada hadis arbain (empat puluh) yang menerangkan pentingnya kasih sayang kepada sesama makhluk Allah.

لَايُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبُّ لِأَخِيْهِ مَايُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman kalian semua, sehingga (kalian) mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri.”
Ajaran kasih sayang, tak habis-habisnya diajarkan dalam Islam. Ia bahkan sampai memperhatikan segala sesuatu yang terkait dengan liku hidup manusia. Misalnya dalam Islam sangat menganjurkan bahkan memerintahkan apabila kita mempunyai satu makanan, maka kita harus mengajak satu orang untuk ikut menikmatinya, dan apabila ada dua makanan, maka kita dianjurkan untuk mencari dua orang lagi untuk ikut bergabung menyantap makanan tersebut. Maka itu semua ikhtiar perhatian sesama manusia yang kalau dilakukan akan menghasilkan ketulusan.
Ajaran-ajaran kasih sayang dan berbagi inilah yang sering dilupakan dan ditutupi oleh perbedaan fikih diantara umat manusia. Perbedaan paham yang sepele bisa menelantarkan akhlak kasih sayang manusia yang melebar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar