Sabtu, 17 Maret 2012

Perbandingan Dunia dan Akhirat

Tidak ada seorangpun yang menolak kenyataan bahwa kehidupan kita di dunia ini hanya untuk sementara waktu saja. Di akhir zaman saat ini, paling lama manusia dapat hidup selama 150 tahun. Setelah itu semua orang akan mati dan setelah mati pergi ke akhirat. Banyak orang mempercayai akan hal ini, hanya sedikit sekali yang tidak percaya. Umat Islam memang mempercayai bahwa akhirat itu ada.
Akhirat adalah tempat tinggal manusia yang kekal abadi. Di sana ada kesenangan dan kesusahan seperti halnya di dunia ada kesenagan dan keusahan. Hanya saja kesenangan dan kesusahan di dunia dan di akhirat tidak sama. Kalau kita bandingkan kesenangannya seperti kita memiliki rumah pohon dengan memiliki istana. Sedangkan perbandingan azabnya seperti gigitan semut dengan terkaman singa yang ganas.
Batas antara dunia dengan akhirat ialah alam kubur atau alam Barzakh. Di sana manusia ditahan untuk sementara waktu. Di alam Barzakh juga ada kesusahan dan ada kesenangan sebagaimana di dunia. Ibaratnya seperti perbatasan antara dua negara. Di perbatasan dua negara itulah ada kalanya manusia mendapat kesenangan dan ada kalanya mendapat kesusahan. Begitulah keadaan di antara dunia dengan akhirat yaitu alam kubur atau alam Barzakh.
Umat Islam mempercayai adanya kehidupan akhirat dan mempercayai bahwa alam Barzakh adalah batas antara dunia dan akhirat. Umat Islam juga percaya bahwa nikmat dan azab di sana jauh berbeda dengan nikmat dan azab di dunia. Bahkan seandainya Allah menjadikan kita dapat merasakan perbandingan itu saat ini, niscaya kita akan menolak dunia ini secara total dan akan menumpukan seratus persen hidup kita untuk tujuan akhirat. Akan tetapi manusia hidup di dunia ini terlebih dahulu. Dunia adalah negeri yang murah tapi dekat. Manusia akan merasakan nikmat dan azabnya terlebih dahulu sebelum nikmat dan azab akhirat sehingga manusia akan terpesona dengan kehidupan di dunia ini. Mereka menjadi lalai, lupa kepada kehidupan yang di sana, yaitu di negeri akhirat.
Oleh karena itulah maka manusia sanggup bersungguh-sungguh mengejar nikmat dunia dan menghindari azab di dunia ini. Manusia sanggup memeras otak dan tenaganya, pagi dan petang, siang dan malam tanpa merasa jemu. Walaupuh bersusah payah tapi tetap dihadapi juga kesusahan itu. Walaupun menderita menghadapi berbagai ujian tapi manusia sanggup menghadapinya. Adakalanya keuntungan yang dikejar, rugi yang didapat. Kesenangan yang diinginkan, kesusahan yang didapat. Kebahagiaan yang dikejar, penderitaan yang datang. Kebaikan yang diburu, kemalangan yang dijumpai. Namun manusia tetap tidak merasa jemu, tidak merasa kecewa dan tidak berputus asa. Digunakannya segenap tenaga yang ada untuk memburu dunia. Sampai-sampai tidak ada sama sekali ruangan di dalam hidupnya untuk urusan akhirat. Atau jika masih ada sedikit tenaga yang tersisa, itulah yang digunakan untuk urusan akhirat. Itu pun dengan perasaan jemu, berat dan susah.
Padahal di dalam pengalaman kita, mengejar akhirat sebenarnya lebih mudah daripada mengejar dunia. Sedangkan urusan akhirat adalah urusan yang lebih penting dibandingkan urusan dunia. Akhirat adalah istimewa dibandingkan dengan dunia yang murah ini. Walaupun penting tapi ternyata Allah mempermudahnya. Itulah sebagian rahmat Allah agar manusia cenderung ke sana. Sebaliknya, urusan dunia yang murah ini dijadikan Allah lebih susah agar manusia menganggap enteng dan kecil saja dunia ini. Sepatutnya demikian. Tapi rupanya manusia tidak begitu. Walaupun urusan akhirat itu mudah namun manusia merasa berat mengerjakannya. Sedangkan urusan dunia yang susah dirasakan lebih ringan dan mudah. Itu membuktikan bahwa daya tarik dunia lebih mempengaruhi manusia dibandingkan daya tarik akhirat yang istimewa dan agung sekalipun urusan dunia itu lebih susah dan berat…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar